Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah dalam Fiqih Islam?
Aqiqah adalah salah satu tradisi dalam Islam yang biasanya dilakukan ketika seorang bayi lahir ke dunia, sebagai ungkapan syukur dan doa bagi keselamatan serta keberkahan bayi. Namun dalam praktiknya, banyak orang bertanya: kapan waktu terbaik atau paling afdhol untuk melaksanakan aqiqah? Apakah harus tepat pada hari ketujuh kelahiran — atau boleh ditunda bila ada kondisi tertentu?
Artikel ini mencoba menjelaskan dengan jelas pandangan fiqih mengenai waktu aqiqah: dari dasar hadis, perbedaan madzhab, fleksibilitas waktu, hingga panduan praktis bagi orang tua Muslim di Indonesia (khususnya di kota dengan mobilitas tinggi seperti Surabaya) agar bisa merencanakan aqiqah secara bijak, pragmatis, dan sesuai syariat.
Apa Itu Aqiqah dan Hukum Pelaksanaannya
Sebelum kita masuk ke waktu, penting memahami dulu dasar aqiqah itu sendiri. Aqiqah adalah penyembelihan kambing (atau domba) sebagai wujud syukur atas kelahiran anak. Bagi anak laki-laki, dianjurkan dua ekor kambing; bagi anak perempuan satu ekor. Ibadah ini termasuk sunah muakkad — sangat dianjurkan bagi yang mampu. Bila seseorang bernazar untuk melakukan aqiqah, maka ia menjadi wajib.
Aqiqah memiliki tiga komponen penting: penyembelihan hewan sesuai syariat, memberi nama kepada bayi serta mencukur rambutnya (pada sebagian tradisi), dan membagikan daging kepada orang lain: keluarga, kerabat, maupun yang membutuhkan.
Karena itu, pelaksanaan aqiqah bukan sekadar ritual hewan potong, melainkan bagian dari syariat Islami dengan aspek spiritual dan sosial yang mendalam.
Dalil dan Pendapat Fiqih tentang Waktu Aqiqah
Waktu paling utama — hari ketujuh
Mayoritas ulama dan banyak riwayat hadis menyebut bahwa waktu paling afdhol untuk aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang bayi “tergadai dengan aqiqahnya; disembelih baginya pada hari ketujuh, diberi nama, dan rambutnya dicukur.” Hal ini membuat hari ketujuh menjadi referensi utama bagi banyak umat Islam dalam merencanakan aqiqah.
Hitungan hari ketujuh harus diperhatikan dengan benar: bila bayi lahir pada siang hari (antara Subuh hingga Maghrib), hari lahir dihitung sebagai hari pertama. Tapi bila lahir malam hari (setelah Maghrib), maka hari pertama dihitung mulai hari berikutnya.
Toleransi: hari ke-14 atau ke-21
Terdapat riwayat dan pendapat yang memperbolehkan pelaksanaan aqiqah di hari ke-14 atau ke-21. Pendapat ini muncul sebagai alternatif bila hari ketujuh tidak memungkinkan — misalnya karena kendala kesehatan ibu, bayi, atau kesibukan keluarga. Dalam pandangan ini, aqiqah tetap sah meskipun diundur, asalkan syarat hewan dan penyembelihan tetap dipenuhi.
Boleh ditunda — bahkan di kemudian hari
Beberapa pendapat dalam madzhab fiqih membolehkan aqiqah dilakukan kapan saja sebelum anak baligh (dewasa), asalkan dilakukan dengan niat dan syarat valid. Jadi, meskipun hari ketujuh paling afdhol, tidak ada dosa bila aqiqah dilakukan lebih lambat. Ini memberikan toleransi dan kelonggaran bagi keluarga yang belum mampu pada saat awal kelahiran.
Faktor yang Memengaruhi Penentuan Waktu Aqiqah
Mengapa banyak keluarga tidak bisa melaksanakan aqiqah tepat pada hari ketujuh? Berikut faktor-faktor yang sering menjadi pertimbangan:
Kondisi kesehatan ibu dan bayi
Seringkali, setelah persalinan, ibu dan bayi perlu pemulihan: persalinan sulit, ibu lelah, kesehatan bayi belum stabil, atau perlu imunisasi. Dalam kondisi demikian, tidak disarankan memaksakan aqiqah agar tidak membahayakan.
Kondisi ekonomi keluarga
Biaya untuk aqiqah — membeli kambing, penyembelihan, persiapan masakan, distribusi — tidak ringan. Bila keluarga belum siap secara ekonomi pada hari ketujuh, menunda aqiqah sampai kondisi memungkinkan adalah solusi yang sah.
Kemudahan distribusi daging
Dalam banyak keluarga, akiqah bukan hanya untuk konsumsi langsung, tetapi untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Bila tamu banyak atau distribusi memerlukan persiapan, waktu fleksibel membantu.
Ketersediaan hewan dan layanan aqiqah — terutama di kota besar
Di kota seperti Surabaya, banyak jasa aqiqah melayani pemesanan kambing hidup atau sembelihan, olahan masakan, hingga layanan siap saji. Namun ketersediaan kambing tak selalu stabil, apalagi saat permintaan tinggi. Oleh karena itu, fleksibilitas waktu bisa membantu mendapatkan layanan terbaik tanpa berlebihan.
Pilihan Waktu Aqiqah: Rincian dan Keunggulan Masing-Masing
Aqiqah hari ketujuh — kelebihan dan kekurangan
Kelebihan
- Sesuai sunnah dan paling afdhol — meniru praktik Rasulullah ﷺ.
- Melahirkan rasa syukur segera setelah kelahiran — memberi berkah cepat untuk bayi.
- Momen aqiqah dan sabisan rambut bisa bersamaan — tradisi yang berkesan.
Kekurangan
- Bila kesiapan kurang (fisik ibu, bayi, finansial), bisa menambah beban.
- Tekanan logistik: kudu segera cari kambing, persiapan masak, distribusi — bisa jadi menyulitkan terutama keluarga dengan kondisi padat.
Aqiqah hari ke-14 atau ke-21 — pilihan fleksibel
Keunggulan
- Memberi ruang waktu: ibu dan bayi lebih siap, ekonomi dan logistik lebih matang.
- Bisa dijadwalkan bersamaan dengan keluarga besar atau tamu — lebih strategis bila ingin mengundang banyak orang.
- Tidak terburu-buru, sehingga persiapan matang baik dari kambing sampai distribusi daging.
Kekurangan
- Kurang afdhol dibanding hari ketujuh — walaupun tetap sah.
- Bisa melewati masa “eden” — rasa syukur dan semangat baru setelah kelahiran bisa sedikit meredup.
Aqiqah ditunda — sesuai kemampuan keluarga
Keunggulan
- Memberi kebebasan, terutama jika keluarga belum siap secara finansial atau keadaan keluarga sulit.
- Tidak ada dosa karena aqiqah tetap sah selama puasa niat, penyembelihan, dan distribusi dilakukan dengan benar.
Kekurangan
- Jika terlalu lama menunda, bisa ada godaan untuk lupa atau menunda terus.
- Makna syukur bisa terasa tertunda — sekalipun tetap sah.
Bagaimana Memutuskan Waktu Aqiqah yang Tepat: Panduan Praktis
Bagi orang tua yang baru memiliki anak, keputusan kapan melakukan aqiqah bisa menjadi dilema. Berikut panduan praktis agar keputusan tepat sesuai kondisi:
- Cek kesehatan ibu dan bayi; jika keduanya belum stabil pasca lahir, tunda dulu.
- Evaluasi kondisi keuangan: apakah membeli kambing, masak, dan distribusi bisa dilakukan tanpa membuat beban.
- Hitung jumlah tamu dan distribusi: bila banyak tamu atau ingin berbagi banyak daging, pilih waktu fleksibel agar persiapan cukup.
- Jika menggunakan jasa layanan aqiqah (sembelihan, olah masakan, siap saji), pastikan mereka tersedia — terutama bila musim ramai.
- Prioritaskan niat — niat tulus untuk bersyukur dan berbagi — jangan terjebak keinginan ikut tren atau tekanan dari lingkungan.
- Perhatikan kenyamanan dan keamanan keluarga: saat ibu baru melahirkan, jangan paksakan acara besar bila belum siap.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, orang tua bisa memilih waktu yang paling sesuai bagi keluarga mereka, tanpa merasa terburu-buru atau terbebani.
Pandangan Madzhab dalam Islam tentang Waktu Aqiqah
Madzhab Syafi’i
Madzhab ini membolehkan aqiqah pada hari ketujuh, atau bila tidak memungkinkan bisa di hari ke-14 atau ke-21. Bahkan jika dilaksanakan lebih lambat, aqiqah tetap sah — selama niat dan syarat penyembelihan terpenuhi.
Madzhab Hambali
Menurut Hambali, idealnya pada hari ketujuh. Namun jika tidak bisa, aqiqah bisa dilakukan kapan saja, selama masih dalam masa hidup anak — meskipun sudah dewasa.
Konsensus banyak ulama
Mayoritas ulama menganggap hari ketujuh sebagai waktu afdhol. Meski demikian mereka menerima pelaksanaan aqiqah di luar hari itu sebagai sah — selama syarat terpenuhi — sehingga tidak ada paksaan tapi lebih kepada anjuran.
Praktik Aqiqah di Kota Besar seperti Surabaya: Kenyataan & Tantangan
Ramainya permintaan layanan aqiqah, mobilitas tinggi, dan kesibukan membuat pelaksanaan aqiqah di kota besar seperti Surabaya sering tertunda. Berikut beberapa tantangan nyata:
- Sulit menemukan kambing sehat di waktu sempit.
- Keluarga dan orang tua baru sering sibuk kerja — sedikit waktu untuk mengurus aqiqah.
- Pengurusan masak dan distribusi daging memakan tenaga besar.
- Permintaan layanan aqiqah melonjak saat musim tertentu — membuat harga naik dan stok kambing menipis.
Karena itu banyak keluarga memilih layanan aqiqah siap saji, dengan pilihan waktu fleksibel: hari ke-7, ke-14, bahkan beberapa bulan kemudian ketika kondisi memungkinkan. Ini sesuai norma fiqih: aqiqah tetap sah.
Sebagai konsumen, keluarga perlu memastikan bahwa layanan mengutamakan proses penyembelihan syar’i, kebersihan, dan distribusi aman — agar aqiqah tetap halal dan berkah.
Hikmah & Tujuan Aqiqah: Melebihi Sekadar Ritual
Melaksanakan aqiqah bukan hanya soal menyembelih kambing atau mengadakan hajatan. Berikut hikmah mendasar di balik aqiqah:
- Bentuk rasa syukur atas nikmat anak.
- Memberi nama dan identitas bagi anak — sekaligus doa.
- Memupuk rasa empati, berbagi rezeki kepada tetangga, kerabat, dan yang membutuhkan.
- Mengajarkan tanggung jawab dan kedermawanan kepada keluarga.
- Membantu mempererat silaturahmi keluarga dan masyarakat.
Saat aqiqah dilakukan tepat, dengan niat ikhlas dan syarat syar’i, akan mendatangkan keberkahan — baik untuk anak, ibu, maupun keluarga.
Kesimpulan
Waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah dalam fiqih Islam adalah hari ketujuh setelah kelahiran bayi — sebagai bentuk sunnah yang afdhol. Namun Islam memberi kelonggaran: hari ke-14, ke-21, atau kapan saja selama masa hidup anak, selama syarat syar’i terpenuhi — sehingga aqiqah tetap sah.
Dalam praktik di kota besar seperti Surabaya, banyak keluarga memilih waktu fleksibel demi menyesuaikan kondisi: kesehatan ibu, kesiapan ekonomi, maupun kemudahan logistik. Yang paling penting adalah niat ikhlas, syarat aqiqah dipenuhi, dan distribusi daging dilakukan dengan baik.
Bagi orang tua: keputusan terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi nyata — bukan karena tekanan tradisi semata. Aqiqah adalah ibadah, dan Allah Maha Pengasih bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keikhlasan.
Semoga artikel ini membantu Anda memahami kapan waktu terbaik melakukan aqiqah, serta memberikan panduan praktis agar ibadah aqiqah terlaksana dengan penuh keberkahan dan ketenangan.
